Rabu, 22 Februari 2017

Berawal dari pemikiran yang tak tau harus berawal dari mana, saya mengutip dalam dasar negara Indonesia yaitu Pancasila Poin terakhir bahwa “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”  yang menandakan rakyat Indonesia berhak mendapatkan keadilan dari berbagai aspek kehidupan diantaranya:
1.         Aspek Sosial
Masalah sosial adalah masalah yang perlu di perhatikan oleh masyarakat saat sekarang, kenapa sosial perlu di perhatikan karena sosial adalah tempat di mana kita berinteraksi dengan  masyarakat.  segala sesuatunya perlu di perhatikan, mulai dari tutur bahasa,perlakuan keseharian, sampai kegiatan yang paling terkecil. Rana sosial adalah rana yang membuat manusia lupa akan dirinya sendiri untuk apa dia berada di lingkungan sosial. Masalah dunia yang menenpati pikiran-pikiran manusaia sekarang, yang mempengaruhi eksistensi mereka adalah masalah sosial, sistem apakah yang selaras dengan manusia mencapai suatu kehidupan sosial yang berbahagia dan adil?

Masalah ini berakar secara mendalam di masa lampau yang jauh di dalam sejarah keberadaan manusia. manusaia menghadapi masalah ini sejak mereka membentuk kehidupan sosial. masalah sosial ini telah mendorong umat manusia dalam arena perjuangan intelektual maupun politik, untuk melangsungkan perang yang panjang dan melibatkan diri dalam suatu perjuangan yang sarat berbagai dengan pertarungan. Inila perjuangan yang meletihkan sarat dengan kenestapaan dan kepahitan, tawa dan air mata, serta perjuangan kebahagiaannya berdampingan dengan kesengsaraan. Semua ini terjadi karena adanya warnawarni ketidaknormalan dan keaneka ragaman penyimpangan yang merupakan karakteristik sistem sosial tersebut. Apabila tidak ada percikan cahaya yang memancar selama beberapa saat dalam sejarah manusia di atas  planet bumi ini, niscaya eksistensi sosial manusia akan terus berada dalam kenestapaan dan karam dalam badai kekacauan.

2.         Aspek Ekonomi
Kini saya akan berbicara di wilayah ekonomi yang tentu para pakar ekonomi di Kabupaten Jeneponto tidak sama pemikiran saya dengan mereka, saya akan berbicara di aspek yang paling terkcil di wilayah ekonomi seperti para petani yang ada di kampung. Melihat perkembangan dan peralihan jabatan atau pemilihan Pemimpin baru yang ada di Kabupaten Jeneponto kemungkinan besar akan ada perubahan pula di tatanan para rakyat kecil di aspek ekonomi pertanian namun kondisi yang  di harapkan tidak sesuai dengan yang terjadi di realitas kehidupan masyarakat.

Sejak tahun 1945, perkembangan ekonomi menjadi suatu masalah sosial dan ekonomi yang sangat penting dalam percaturan di tingkatan Daerah. Melihat dari perkembangan ekonomi dan adanya pemimpin baru yang ada di Kab. Jeneponto tentu sangat pula mempengaruhi situasi dan kondisi di daerah kab. Jeneponto, kembali ke daerah pedesaan, di desa Balang Loe tepatnya banyak petani mengeluh akibat bibit jagung meningkat pesat mulai dari Rp.47.000/Kilo sampai Rp. 80.000/Kilonya, bahkan Pupuk di daerah tersebut sulit di dapatkan, apakah perusahaan pupuk tersebut sengaja mengurangi stok barangnya supaya harga pupuk meningkat, bahkan masyarak terpaksa membeli pupuk mulai dari harga Rp.105.000-110.000/saknya, melihat kondisi tersebut apakah peran Dinas Pertanian selama ini di tugaskan untuk mengawasi masyarakat dan seperti apa kebutuhan masyarakat, ironisnya lagi ketika masyarakat ingin menjual hasil pertaniannya atau jagungnya harga yang di berikan oleh pedagang seharga Rp. 2500/Kilonya, pertanyaan kemudian apakah sepadan dengan kerja keras para petani selama ini yang harga bibit dia beli mulai dari Rp. 47.000-Rp 80.000/kilonya, Olehnya  itu untuk mensejahterahkan rakyak maka petani perlu di sejahterahkan, karena mayoritas masyarakat di Kab, Jeneponto adalah petani. Dan usulan juga bagaimana kalo pemerintah Khusus Kab. Jeneponto membuat Peraturan Daerah (PERDA) mengenai harga Hasil Panen/Jagung yang isinya mungkin tertuang Dalam PERDA tersebut bahwa Harga yang Keluarkan oleh para Pedagang sebesar Rp. 3500/kilo. Sehingga para petani senang dengan hasil jualannya,

3.         Aspek Kebudayaan
Berbicara tentang adat budaya yang ada di Kab. Jeneponto tentu masyarakat berbeda-beda pemahaman mengenai Budaya yang ada di Jeneponto. Melihat kondisi Budaya yang ada di Jeneponto tentu masyarakat dan pemerintah tau bagaimana perkembangan Kebudayaan yang ada di Kab. Jeneponto. Kebudayaan yang saya maksud bukan adat budaya yang kita perbincangkan tapi nilai-nilai budaya selama ini yang kita agung-agungkan, nilai budaya yang yang Pertama : Gotong Royong/Kerja Sama tentu masyarakat hari ini yang sudah terkontaminasi dengan budaya luar akan mengurangi nilai budaya yang ada di Jeneponto sehingga Budaya Gotong Royong yang ada di kampung kita saat ini sudah terkikis dengan adanya budaya dari luar, bagaiman cara mengatasi sehingga budaya gotong royong ini tidak hilang ya tentu para orang tua dan generasi harus memikirkan apa solusi yang tepat sehingga budaya gotong royong ini tidak hilang. Kedua Sirik :  kalo orang Jeneponto tidak tau bahasa ini maka dia bukan Asli ketururan Bugis  makassar, Sirik sebagai aspek kebudayaan atau aspek antropologi budaya Bugis Makassar. Manakala kita ingin mendalami pengertian SIRIK dengan segenap permasalahannya antara lain dapat di ketahui dari buku LA TOA, buku ini berisi pesan-pesan dan nasehat yang merupakan kumpulan petuah untuk di jadikan suri teladan.

Buku LA TOA artinya YANG TUA. Tetapi arti yang sebenarnya ialah PETUAH-PETUAH, berisi sekitar seribu jenis petuah-petuah. Hampir semua isi LA TOA ini erat kaitannya dengan peranan SIRIK  dalam pola hidup atau adat istiadat Bugis Makassar (merupakan Falsafah Hidup). Contohnya : SIRIK sebagai harga diri atau kehormatan, MAPPAKASIRIK dinodai kehormatannya, Dll. SIRIK dapat juga di artikan sebagai pernyataan sikap tidak serakah (Bugis- makassar: MANGOWA). Mengingat pentingnya SIRIK di kehidupan kita sehari-hari maka perlu di sadari pula kata SIRIK ini bukan hanya di pakai dalam keadaan kita ada masalah tapi kita harus memakainya sepanjang hari, seperti Malu jika terlambat datang di kantor, Malu jika terlambat datang Mengajar, Malu jika terlambat Ke sekolah Bagi Siswa, malu Jika Mengambil Hak Milik orang lain, Malu jika belum Jam Pulang Udah Pulang Kerja , dan Lain-lain. Ya tentu kita semua sadar akan hal itu tapi haruskah kita akan seperti itu terus menerus tidak ada perubahan, mari kita membangun daerah kita unutk menuju sebuah perubahan besar.

4.         Aspek Pendidikan
Emile Durkheim mengatakan bahwa “ pendidikan memiliki wajah ganda, di satu sisi dia dapat berperan sebagai pembebas tapi di sisi lain dia juga dapat menjadi pembelenggu “ ini cukup relevan dengan untuk melihat fenomena dunia pendidikan yang ada di bangsa  saat ini. Pendidikan adalah hal esensial yang harus di miliki oleh anak bangsa, baik itu pendidikan non- Formal ( lingkungan dan keluarga). Namun fakta saat sekarang adalah orang lebih banyak menggantungkan hidupnya pada pendidikan yang bersifat formal bahkan menyepelehkan pendidikan no-formal. Saya tertarik berbicara menganai banyaknya Sekolah yang ada di Kab. Jeneponto baik itu SD/Mis, SMP/Mts, SMA/SMK/MA, di kabupaten jeneponto saat sekarang di  kecamatan Tarowang Misalnyan di tingkatan SMP/Mts yang kuran lebih 7 sekolah, sedangkan  MA ada sekitar kurang lebih 5 sekolah Swasta sederajad dengan SMA tapi kenapa masih banyak anak didik kita bersekolah di luar kabupaten jeneponto?  Pemerintah perlu mengkaji ada apa dengan sekolah yang ada di jeneponto saat sekarang ini, buat apa membangun sekolah banyak kalau murid dan Intelektual,moralitasnya tidak ada, sama saja membangun sebuah kuburan menurut saya, terbabas dari itu apa pemikiran para pemerintah dan para pendiri sekolah Swasta atau Sekolah Negeri saat ini, apakah hanya sekedar membangun dan mendapatkan Dana BOS untuk memperkaya Bos, manalagi sebagian guru yang mengajar tidak tau tanggung jawabnya sebagai guru, mendapat gaji namun malas mengajar, bahkan siswa ikut-ikutan malas kesekolah, karena pemikiran sebagian siswa buat apa rajin gurunya pun malas mengajar, ironisnya lagi siswa hanya tersenyum ketika di berikan arahan oleh gurunya mengenai kerajinan, saya pernah bertanya salah satu murid di sekolah swasta tidak usah say sebutkan sekolahnya, kenapa malas kesekolah, nanti kamu tidak naik kelas kalau kamu tidak rajin, jawab siswa: bagaiman saya mau rajin Gurunya saja malas kesekolah bahkan saya pasti naik kelas karena banyak teman saya yang malas kesekolah naik kelas juga. Inilah doktrin murid yang atau kebiasaan sekolah yang tidak memperghatikan Guru dan muridnya.
Inilah empat aspek yang menurut saya perlu di kaji dan di diskusikan lebih mendalam oleh pemerintah, Aktifis dan berbagai elemen yang peduli dengan aspek yang saya sebutkan di atas, sehingga apa keinginan Bangsa ini itu bisa tercapai, mengenai berbagai masalah yang terjadi itu adalah feomena yang perlu di perbaiki kembali di masa yang akan datang supaya perubahan itu nampak di depan mata.

“ jika saya bertindak benar bantulah, tetapi jika saya bertindak salah luruskanlah. Kejujuran adalah kepercayaan dan kebohongan adalah penghianatan “ ( Abu Bakar al-shiddiq )

 “ saya tau anda tidak bisa memecat saya dari kekuasaan Yang di berikan  Allah kepada saya. Tetapi dengan menulis dua atau tiga kalimat yang saya kirimkan kepada rakyat kurasa saya dapat memecat anda” ( Imam Al-Gazali )


(II    Isra Ilham          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar