Berawal dari pemikiran yang tak tau
harus berawal dari mana, saya mengutip dalam dasar negara Indonesia yaitu
Pancasila Poin terakhir bahwa “keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” yang menandakan rakyat Indonesia berhak
mendapatkan keadilan dari berbagai aspek kehidupan diantaranya:
1.
Aspek
Sosial
Masalah
sosial adalah masalah yang perlu di perhatikan oleh masyarakat saat sekarang,
kenapa sosial perlu di perhatikan karena sosial adalah tempat di mana kita
berinteraksi dengan masyarakat. segala sesuatunya perlu di perhatikan, mulai
dari tutur bahasa,perlakuan keseharian, sampai kegiatan yang paling terkecil.
Rana sosial adalah rana yang membuat manusia lupa akan dirinya sendiri untuk
apa dia berada di lingkungan sosial. Masalah dunia yang menenpati
pikiran-pikiran manusaia sekarang, yang mempengaruhi eksistensi mereka adalah
masalah sosial, sistem apakah yang selaras dengan manusia mencapai suatu
kehidupan sosial yang berbahagia dan adil?
Masalah
ini berakar secara mendalam di masa lampau yang jauh di dalam sejarah
keberadaan manusia. manusaia menghadapi masalah ini sejak mereka membentuk
kehidupan sosial. masalah sosial ini telah mendorong umat manusia dalam arena
perjuangan intelektual maupun politik, untuk melangsungkan perang yang panjang
dan melibatkan diri dalam suatu perjuangan yang sarat berbagai dengan
pertarungan. Inila perjuangan yang meletihkan sarat dengan kenestapaan dan
kepahitan, tawa dan air mata, serta perjuangan kebahagiaannya berdampingan
dengan kesengsaraan. Semua ini terjadi karena adanya warnawarni ketidaknormalan
dan keaneka ragaman penyimpangan yang merupakan karakteristik sistem sosial
tersebut. Apabila tidak ada percikan cahaya yang memancar selama beberapa saat
dalam sejarah manusia di atas planet
bumi ini, niscaya eksistensi sosial manusia akan terus berada dalam kenestapaan
dan karam dalam badai kekacauan.
2.
Aspek
Ekonomi
Kini
saya akan berbicara di wilayah ekonomi yang tentu para pakar ekonomi di
Kabupaten Jeneponto tidak sama pemikiran saya dengan mereka, saya akan
berbicara di aspek yang paling terkcil di wilayah ekonomi seperti para petani
yang ada di kampung. Melihat perkembangan dan peralihan jabatan atau pemilihan
Pemimpin baru yang ada di Kabupaten Jeneponto kemungkinan besar akan ada
perubahan pula di tatanan para rakyat kecil di aspek ekonomi pertanian namun
kondisi yang di harapkan tidak sesuai
dengan yang terjadi di realitas kehidupan masyarakat.
Sejak
tahun 1945, perkembangan ekonomi menjadi suatu masalah sosial dan ekonomi yang
sangat penting dalam percaturan di tingkatan Daerah. Melihat dari perkembangan
ekonomi dan adanya pemimpin baru yang ada di Kab. Jeneponto tentu sangat pula
mempengaruhi situasi dan kondisi di daerah kab. Jeneponto, kembali ke daerah
pedesaan, di desa Balang Loe tepatnya banyak petani mengeluh akibat bibit
jagung meningkat pesat mulai dari Rp.47.000/Kilo sampai Rp. 80.000/Kilonya,
bahkan Pupuk di daerah tersebut sulit di dapatkan, apakah perusahaan pupuk
tersebut sengaja mengurangi stok barangnya supaya harga pupuk meningkat, bahkan
masyarak terpaksa membeli pupuk mulai dari harga Rp.105.000-110.000/saknya,
melihat kondisi tersebut apakah peran Dinas Pertanian selama ini di tugaskan
untuk mengawasi masyarakat dan seperti apa kebutuhan masyarakat, ironisnya lagi
ketika masyarakat ingin menjual hasil pertaniannya atau jagungnya harga yang di
berikan oleh pedagang seharga Rp. 2500/Kilonya, pertanyaan kemudian apakah
sepadan dengan kerja keras para petani selama ini yang harga bibit dia beli
mulai dari Rp. 47.000-Rp 80.000/kilonya, Olehnya itu untuk mensejahterahkan rakyak maka petani
perlu di sejahterahkan, karena mayoritas masyarakat di Kab, Jeneponto adalah
petani. Dan usulan juga bagaimana kalo pemerintah Khusus Kab. Jeneponto membuat
Peraturan Daerah (PERDA) mengenai harga Hasil Panen/Jagung yang isinya mungkin
tertuang Dalam PERDA tersebut bahwa Harga yang Keluarkan oleh para Pedagang sebesar
Rp. 3500/kilo. Sehingga para petani senang dengan hasil jualannya,
3.
Aspek
Kebudayaan
Berbicara
tentang adat budaya yang ada di Kab. Jeneponto tentu masyarakat berbeda-beda
pemahaman mengenai Budaya yang ada di Jeneponto. Melihat kondisi Budaya yang
ada di Jeneponto tentu masyarakat dan pemerintah tau bagaimana perkembangan
Kebudayaan yang ada di Kab. Jeneponto. Kebudayaan yang saya maksud bukan adat
budaya yang kita perbincangkan tapi nilai-nilai budaya selama ini yang kita
agung-agungkan, nilai budaya yang yang Pertama
: Gotong Royong/Kerja Sama tentu masyarakat hari ini yang sudah
terkontaminasi dengan budaya luar akan mengurangi nilai budaya yang ada di
Jeneponto sehingga Budaya Gotong Royong yang ada di kampung kita saat ini sudah
terkikis dengan adanya budaya dari luar, bagaiman cara mengatasi sehingga
budaya gotong royong ini tidak hilang ya tentu para orang tua dan generasi
harus memikirkan apa solusi yang tepat sehingga budaya gotong royong ini tidak
hilang. Kedua Sirik : kalo orang Jeneponto tidak tau bahasa ini maka
dia bukan Asli ketururan Bugis makassar,
Sirik sebagai aspek kebudayaan atau aspek antropologi budaya Bugis Makassar.
Manakala kita ingin mendalami pengertian SIRIK dengan segenap permasalahannya
antara lain dapat di ketahui dari buku LA TOA, buku ini berisi pesan-pesan dan
nasehat yang merupakan kumpulan petuah untuk di jadikan suri teladan.
Buku
LA TOA artinya YANG TUA. Tetapi arti yang sebenarnya ialah PETUAH-PETUAH,
berisi sekitar seribu jenis petuah-petuah. Hampir semua isi LA TOA ini erat
kaitannya dengan peranan SIRIK dalam
pola hidup atau adat istiadat Bugis Makassar (merupakan Falsafah Hidup).
Contohnya : SIRIK sebagai harga diri atau kehormatan, MAPPAKASIRIK dinodai
kehormatannya, Dll. SIRIK dapat juga di artikan sebagai pernyataan sikap tidak
serakah (Bugis- makassar: MANGOWA). Mengingat pentingnya SIRIK di kehidupan
kita sehari-hari maka perlu di sadari pula kata SIRIK ini bukan hanya di pakai
dalam keadaan kita ada masalah tapi kita harus memakainya sepanjang hari,
seperti Malu jika terlambat datang di kantor, Malu jika terlambat datang
Mengajar, Malu jika terlambat Ke sekolah Bagi Siswa, malu Jika Mengambil Hak
Milik orang lain, Malu jika belum Jam Pulang Udah Pulang Kerja , dan Lain-lain.
Ya tentu kita semua sadar akan hal itu tapi haruskah kita akan seperti itu
terus menerus tidak ada perubahan, mari kita membangun daerah kita unutk menuju
sebuah perubahan besar.
4.
Aspek
Pendidikan
Emile
Durkheim mengatakan bahwa “ pendidikan
memiliki wajah ganda, di satu sisi dia dapat berperan sebagai pembebas tapi di
sisi lain dia juga dapat menjadi pembelenggu “ ini cukup relevan dengan
untuk melihat fenomena dunia pendidikan yang ada di bangsa saat ini. Pendidikan adalah hal esensial yang
harus di miliki oleh anak bangsa, baik itu pendidikan non- Formal ( lingkungan
dan keluarga). Namun fakta saat sekarang adalah orang lebih banyak
menggantungkan hidupnya pada pendidikan yang bersifat formal bahkan
menyepelehkan pendidikan no-formal. Saya tertarik berbicara menganai banyaknya
Sekolah yang ada di Kab. Jeneponto baik itu SD/Mis, SMP/Mts, SMA/SMK/MA, di
kabupaten jeneponto saat sekarang di
kecamatan Tarowang Misalnyan di tingkatan SMP/Mts yang kuran lebih 7
sekolah, sedangkan MA ada sekitar kurang
lebih 5 sekolah Swasta sederajad dengan SMA tapi kenapa masih banyak anak didik
kita bersekolah di luar kabupaten jeneponto?
Pemerintah perlu mengkaji ada apa dengan sekolah yang ada di jeneponto
saat sekarang ini, buat apa membangun sekolah banyak kalau murid dan Intelektual,moralitasnya
tidak ada, sama saja membangun sebuah kuburan menurut saya, terbabas dari itu
apa pemikiran para pemerintah dan para pendiri sekolah Swasta atau Sekolah
Negeri saat ini, apakah hanya sekedar membangun dan mendapatkan Dana BOS untuk
memperkaya Bos, manalagi sebagian guru yang mengajar tidak tau tanggung
jawabnya sebagai guru, mendapat gaji namun malas mengajar, bahkan siswa
ikut-ikutan malas kesekolah, karena pemikiran sebagian siswa buat apa rajin
gurunya pun malas mengajar, ironisnya lagi siswa hanya tersenyum ketika di
berikan arahan oleh gurunya mengenai kerajinan, saya pernah bertanya salah satu
murid di sekolah swasta tidak usah say sebutkan sekolahnya, kenapa malas
kesekolah, nanti kamu tidak naik kelas kalau kamu tidak rajin, jawab siswa: bagaiman saya mau rajin
Gurunya saja malas kesekolah bahkan saya pasti naik kelas karena banyak teman
saya yang malas kesekolah naik kelas juga. Inilah doktrin murid yang atau
kebiasaan sekolah yang tidak memperghatikan Guru dan muridnya.
Inilah empat aspek yang menurut saya
perlu di kaji dan di diskusikan lebih mendalam oleh pemerintah, Aktifis dan
berbagai elemen yang peduli dengan aspek yang saya sebutkan di atas, sehingga
apa keinginan Bangsa ini itu bisa tercapai, mengenai berbagai masalah yang
terjadi itu adalah feomena yang perlu di perbaiki kembali di masa yang akan
datang supaya perubahan itu nampak di depan mata.
“
jika saya bertindak benar bantulah, tetapi jika saya bertindak salah
luruskanlah. Kejujuran adalah kepercayaan dan kebohongan adalah penghianatan “ ( Abu Bakar al-shiddiq )
“ saya
tau anda tidak bisa memecat saya dari kekuasaan Yang di berikan Allah kepada saya. Tetapi dengan menulis dua
atau tiga kalimat yang saya kirimkan kepada rakyat kurasa saya dapat memecat
anda” ( Imam Al-Gazali )
(II Isra Ilham
Tidak ada komentar:
Posting Komentar